Benarkah
anda beragama Buddha ? Sebuah pertanyaan ringan, tapi sulit untuk
dijawab dengan cepat, seperti kita menjawab pertanyaan berapa 2 x
2 ? Untuk menjawab pertanyaan ini kita memerlukan waktu untuk
mengadakan perenungan dan intropeksi pada diri kita sendiri.
Banyak
orang mengaku sebagai umat Buddha, tapi banyak pula yang belum
mengetahui Dhamma yang diajarkan Sang Buddha guru junjungan kita.
Banyak di antara mereka yang sering datang ke vihara hanya untuk
bermain-main atau hanya sekedar ingin bertemu dengan
kawan-kawannya yang berasal dari sekolah lain. Apakah ini yang
dinamakan bhakti dan sembah sujud kita kepada Sang Buddha selaku
umat Buddha ?
Dari ucapan seseorang kita dapat mengetahui
kepribadian dan paham yang mereka anut. Alangkah sayangnya, jika
seseorang diajak menyelesaikan suatu masalah mereka menjawab
dengan jawaban yang tidak pernah ada didalam ajaran oleh Sang
Buddha. Tak jarang pula diantara mereka yang mengaku sebagai umat
Buddha , tapi sewaktu ditanya masalah Dhamma mereka memberikan
suatu jawaban yang jawabannya tidak pernah diajarkan oleh Sang
Buddha. Mereka sering mencampuradukkan istilah istilah yang ada di
dalam agama lain kedalam agama Buddha.
Sebagai contoh,
manusia setelah mati, sebelum dia masuk atau ditentuan masuk ke
nereka atau ke surga, ia akan mengalami pengadilan untuk menimbang
beratnya perbuatan baik-jeleknya selama hidup sebagai manusia.
Pengertian ini tidak pernah ada didalam ajaran Sang Buddha. Kammanyalah
yang menentukan seseorang itu dapat masuk ke surga, jika sering
berbuat jahat (Akusala kamma) maka ia akan dilahirkan di alam
neraka atau alam yang menyedihkan lainnya.
Hukum kamma tau
yang lajim disebut hukum sebab-akibat, yaitu hukum alam yang
mengatur segala sesuatu tindakan baik yang dilakukan oleh badan
jasmani, ucapan dan pikiran yang akan membawa hasil. Dan hasil yang
berupa akibat atau buah dari perbuatan kita itu akan buruk, jika
kita melakukan perbuatan jahat. Dan akan berbuah dengan baik,
jika kita melakukan perbuatan baik. Semua hasil perbuatan ini,
baik yang menyenangkan ataupun tidak menyenangkan, kita sendiri
yang harus menerimanya.
Mereka yang belum mengerti tentang
Dhamma, tidak mau mengakui adannya hukum kamma ini, dan bahkan
ada yang mempunyai anggapan bahwa perbuatan jelek atau
kesalahannya itu dapat ditembus dengan mengadakan upacara
sembahyang atau yang sering disebut dengan istilah pengampunan dosa.
Kesalahan- kesalahan seperti diatas amat merugikan kita. Apalagi
yang mengajukan pertanyaan itu adalah umat dari agama lain yang
ingin mengetahui atau ingin mempelajari Dhamma Sang Buddha.
Sebab
jika kita memberikan penjelasan yang salah, mereka juga akan
memberikan jawaban yang salah jika ditanya oleh orang lain. Jika mereka
sampai tahu bahwa apa yang kita katakan itu salah, maka mungkin
saja mereka akan mencemoohkan kita dan akan mengejek atau menyebut
kita dengan "Umat Buddha KTP" atau "Umat Buddha Statistik"
Atau
bahkan mereka mengatakan "Pura-pura beragama supaya tidak
dianggap komunis:, sebab di negara Indonesia kita ini semua orang wajib
beragama. Ucapan tanpa tindakan tiadalah berarti. Ibarat intan
permata yang indak namun tidak memancarkan sinar karena tidak
pernah diasah.
Begitulah dengan kita, jika kita mengetahui
dengan mengaku sebagai umat Buddha, maka kita yach.. mau tidak
mau harus belajar Dhamma dengan baik. Tak cukup hanya belajar
tanpa mau mempraktekkannya didalam kehidupan bermasyarakat
sehari-hari sebagai seorang umat Buddha yang baik. Dari tingkah
laku dan tindakan kita yang mencerminkan sebagai umat Buddha yang
baik, maka masyarakat disekitar kita akan mengetahui dan mengakui
bahwa agama Buddha adalah agama yang besar.
Alangkah
baiknya, jika kita hidup ditengah tengah masyarakat yang bebas
dari cemohan ataupun menjelek-jelekan agama kita karena tingkah laku
kita sendiri. Dengan demikian kita ikut menciptakan suasana rukun,
tentram, dan damai diantara kita, sehingga akan terbina suatu
masyarakat yang penuh toleransi dan rasa saling menghormati.
Pelajarilah
Dhamma! Jika suara hatimu mengatakan "Aku umat Buddha atau aku
siswa Sang Buddha", tunjukkan dengan ucapan dan perbuatan yang
benar (yang sesuai dengan Dhamma Sang Buddha). Kita perlu membuktikan
melalui ucapan dan perbuatan kita agar kita diakui dimasyarakat
sebagai umat Buddha yang baik, bukan sebagai umat Buddha KTP.
Sekali
lagi pelajarilah Dhamma, jika engkau memang siswa Sang Buddha dan
praktekkanlah dalam kehidupan sehari-hari. Niscaya Anda akan hidup
bahagia lahir dan bathin.
No comments:
Post a Comment